
Ketika autisi merasakan beban psikologis yang begitu berat atau sedang digerakkan oleh impuls kuat dari kebutuhan sensori yang tidak bisa mereka kendalikan, secara ilmiah, kondisi ini memicu respons neurobiologis yang membuat mereka mampu melakukan hal-hal luar biasa di luar nalar atau bayangan.
Lonjakan Adrenalin Ekstrem Memicu “Kekuatan Super”
Lonjakan adrenalin mengalihkan seluruh aliran darah ke otot besar. Hal ini menjelaskan mengapa seorang autisi yang bertubuh kecil secara medis mampu mendobrak pintu yang dikunci, memanjat pagar tinggi yang mustahil diraihnya sehari-hari, atau melepaskan diri dari pegangan kuat beberapa orang dewasa sekaligus.

Desensitisasi rasa sakit
Hormon stres bertindak sebagai anestesi alami. Oleh karenanya autisi bisa berlari tanpa alas kaki di atas batu tajam, menembus semak berduri, atau memecahkan kaca tanpa merasakan sakit sedikit pun pada momen tersebut.

Amygdala Hijack (Mematikan Logika)
Penelitian neurosains menunjukkan bahwa area Prefrontal Cortex (pusat logika dan penilaian bahaya) pada otak autisi akan mati total atau lumpuh sementara saat stres ekstrem melanda.
Ketika mengalami episode ini, autisi memiliki beberapa bentuk respons biologis dan perilaku tertentu.
Beberapa bentuk respons biologis yang biasanya mereka coba sampaikan seperti:
- Fight Lewat Meltdown (Ledakan Emosi)
- Freeze atau Shutdown (Penarikan Diri Total)
- Intensive Stimming (Regulasi Diri Berlebihan)
- Avoidance (Perilaku Menghindar Secara Ekstrem)
- Temporary Loss of Skills (Hilang Kemampuan Sementara)
- Elopement (Kabur dari rumah)
Semua respon biologis fight or flight seorang autisi tentu saja menimbulkan kekhawatiran orang tua, namun elopement memiliki cerita yang berbeda.
Bukan rahasia umum, anak non ASD (tipikal) juga melakukan elopement namun motivasi, alasan, dan cara mereka melakukannya sangat berbeda dengan autisi.
Berdasarkan data ilmiah, anak-anak dalam spektrum memiliki kecenderungan 4 kali lipat lebih tinggi untuk kabur atau berkeliaran dibandingkan saudara kandung atau teman sebaya mereka yang neurotipikal.

Elopement pada autisi adalah perilaku di mana mereka melarikan diri, kabur atau berkeliaran meninggalkan area aman tanpa menyadari bahaya sekitar.
Dalam dunia medis dan psikologi, perilaku ini juga sering disebut dengan istilah wandering (keluyuran) atau bolting (lari melesat secara mendadak).

- Ketika Anak merasa kewalahan dengan suara, cahaya, atau situasi ramai.
- Tertarik pada benda atau hal kesukaan tertentu, misalnya air, lampu, atau kendaraan.
- Ingin keluar dari suasana yang membuat stres atau tidak nyaman.
- Teringat pada momen menyenangkan di tempat-tempat yang pernah dikunjungi lalu ingin segera ke sana.
Goal-directed wandering
Mengejar minat khusus atau objek menarik sering kali dianggap hal biasa. Namun hal itu berbeda ketika seorang autisi yang merasakannya.
Saat eloping, autisi tidak sadar akan risiko seperti jalan raya, tenggelam atau tersesat. Selain itu risiko fisik, medis, dan dampak psikologis lainnya juga bisa terjadi.
Salah satunya ketika autisi tersesat dan memiliki hambatan komunikasi. Situasi darurat ini menjadi jauh lebih kompleks.
Beberapa berita melaporkan hasil pencarian autisi dengan hambatan komunikasi ketika melakukan eloping namun berakhir fatal.

Dampak Trauma Psikologis pada Keluarga
Elopement tidak hanya berbahaya bagi anak, tetapi juga merusak kesehatan mental keluarga seperti insomnia kronis karena orang tua takut anak menyelinap keluar dari rumah di malam hari.
Selain itu, tidak sedikit keluarga memilih mengurung diri di rumah dan menolak menghadiri acara di luar karena cemas anak akan kabur tiba-tiba.
Malafungsi Medis (Kehilangan Dosis Obat)
Jika autisi mengonsumsi obat-obatan rutin secara terjadwal, misalnya obat untuk epilepsi/kejang yang sering menyertai autisme, atau obat penenang saraf, lalu tersesat selama berjam-jam atau berhari-hari maka itu akan memutus siklus pengobatan mereka. Hal ini bisa memicu kedaruratan medis mendadak di jalanan.
Ketidakmampuan Menyampaikan Identitas (Communication Barrier)
Banyak anak-anak, terutama autis non-verbal atau ABK dengan hambatan komunikasi non autistik, tidak bisa menyebutkan nama mereka sendiri, tidak mengingat nomor telepon orang tua, atau kebingungan ketika ditanya alamat rumah saat ditemukan oleh penolong sehingga proses evakuasi menjadi terhambat.
Antisipasi dini sangat penting. Hal yang dibutuhkan adalah First Aid Awareness.

Pencegahan di Rumah
- Pasang kunci tambahan: pasang pengunci ditempat yg sulit dijangkau anak.
- Gunakan alarm sensor: meski bunyi alarm sensor sering kali membuat panik tapi ini sangat membantu.
- Pagar area luar: gunakan pagar dengan design yang tidak mudah dipanjat anak-anak.
- Amankan barang pemicu: letakkan kunci di tempat yang tidak mencolok.

Edukasi & Pengkondisian Anak
- Ajarkan instruksi stop: Latih anak secara konsisten untuk merespons kata “Berhenti” atau “Tunggu”.
- Gunakan cerita sosial: Buat cerita bergambar yang menjelaskan bahaya pergi sendirian tanpa izin orang tua.
- Identifikasi pemicu: Pahami apakah anak ingin ke luar rumah untuk mengejar sesuatu yang disukai atau menghindari stimulasi berlebih atau karena beban psikologis berat.
- Latihan berenang: Berikan kursus berenang karena autisi yang kabur sering kali tertarik dengan alam dan menuju ke area air (sungai, kolam, saluran air, dll).

Keterlibatan Lingkungan Sekitar
- Beri tahu tetangga: Informasikan kondisi anak kepada tetangga dekat agar mereka segera melapor jika melihat anak sendirian di luar.
- Edukasi sekolah: Pastikan guru, staf, dan pengasuh di sekolah memahami risiko elopement anak dan menjaga gerbang tetap aman.
- Buat profil darurat: Siapkan dokumen cetak berisi foto terbaru anak, ciri fisik, hobi, pemicu stres, dan cara menenangkan anak untuk diberikan kepada polisi jika anak hilang.

Alat Pelacakan
- Sematkan pelacak GPS: Gunakan smartwatch anak, perangkat pelacak (seperti AirTag atau sejenisnya)
- Tato temporer: Gunakan tato temporer ramah kulit berisi info kontak jika anak menolak memakai gelang/jam tangan.
- Gunakan tanda pengenal: Pakaikan lanyard, kalung, pin atau gelang berisi nomor telepon orang tua, nama anak dan Panduan De-eskalasi Krisis.
Panduan De-eskalasi Krisis
Instruksi penyelamatan khusus. Langkah demi langkah yang boleh dan tidak boleh penolong lakukan pada eloper, mengingat umumnya mereka memiliki kebiasaan yang berbeda-beda untuk menenangkan diri.
Contoh: larangan menyentuh area kepala, bagaimana cara berbicara yang mudah dipahami anak, stimuli penenang yg efektif serta himbauan bahan makanan mengandung alergen yang tidak boleh diberikan.
Autisi sering kali sensitif pada bahan makanan tertentu. Hal ini menjadi penting karena orang lain mungkin ingin menenangkan mereka dengan makanan yang justru pemicu alergi.

Medical Alert (Kondisi Medis)
Penjelasan ringkas bahwa anak merupakan penyandang autisme atau anak dengan hambatan komunikasi (sulit berbicara) yang sedang dalam masa pengobatan (harus minum obat rutin). Informasi ini sangat penting bagi penolong agar anak bisa segera diberi pertolongan untuk kembali ke rumah dengan aman.
Q: Apakah semua informasi itu bisa ditulis pada tanda pengenal anak? Dapat dibawa ke mana pun dan kapan pun?
A: Bisa!!




Leave a Reply